Kota Medan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Kota Medan |
— Sumatera Sumatera Utara — |
|
Mesjid Raya Medan |

Lambang |
|
| Moto: Bekerja sama dan sama- sama bekerja untuk kemajuan dan kemakmuran Kota Medan metropolitan[1] |
|
Lokasi Kota Medan di Pulau Sumatera |
Lokasi Kota Medan di Pulau Sumatera
|
Koordinat: 3°35′N 98°40′E |
| Negara |
Indonesia |
| Hari jadi |
1 Juli 1590 |
| Pemerintahan |
| - Wali kota |
Rahudman Harahap[2][3][4] |
| - DAU |
Rp. 899.927.416.000,- [5] |
| Luas |
| - Total |
265,10 km2 |
| Populasi (2010)[6][7][8] |
| - Total |
2.109.339 |
| - Kepadatan |
8.001/km² |
| Demografi |
| - Suku bangsa |
Batak, Jawa, Tionghoa, Mandailing, Minangkabau, Melayu, Karo, Aceh, Sunda |
| - Agama |
Islam (67,83%), Katolik (2,89%), Protestan (18,13%), Buddha (10,4%), Hindu (0,68%), lainnya (0,07%) |
| - Bahasa |
Indonesia, Batak, Jawa, Hokkien, Minangkabau, Mandailing |
| Zona waktu |
WIB |
| Kode telepon |
+62 61 |
| SNI 7657:2010 |
MDN |
| Kecamatan |
21 |
| Situs web |
www.pemkomedan.go.id |
Kota Medan adalah
ibu kota provinsi
Sumatera Utara,
Indonesia. Kota ini merupakan kota terbesar di Pulau
Sumatera.
Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan
juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata
Brastagi di daerah dataran tinggi
Karo, objek wisata
Orangutan di
Bukit Lawang,
Danau Toba.
Medan didirikan oleh
Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun
1590.
John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun
1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini
berpenduduk 200 orang dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan
sudah sejak beberapa tahun bermukim disana untuk menarik pajak dari
sampan-sampan pengangkut lada yang menuruni sungai. Pada tahun
1886,
Medan secara resmi memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya
residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan. Tahun 1909,
Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah
pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.
Dewan kota yang pertama terdiri dari 12 anggota orang Eropa, dua orang
bumiputra, dan seorang Tionghoa.
[9]
Pemandangan udara kota Medan di tahun 1920-an
Daerah Kesawan tahun 1920-an
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang
migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang
Tionghoa dan
Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun
1880
perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena
sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan
kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa
sebagai kuli perkebunan. Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan
kemudian didorong untuk mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang
kedua ialah kedatangan orang
Minangkabau,
Mandailing dan
Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi
guru dan
ulama.
Sejak tahun
1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan areal, dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha di tahun
1974.
Dengan demikian dalam tempo 25 tahun setelah penyerahan kedaulatan,
kota Medan telah bertambah luas hampir delapan belas kali lipat.
[sunting] Pemerintahan
Kota Medan dipimpin oleh seorang
walikota. Saat ini, jabatan walikota Medan dijabat oleh
Rahudman Harahap dengan jabatan wakil walikota dijabat oleh Dzulmi Eldin. Wilayah Kota Medan dibagi menjadi 21
kecamatan dan 151
kelurahan.
[sunting] Pemilihan umum kepala daerah Kota Medan 2010
Pasangan Rahudman Harahap-Dzulmi Eldin memperoleh jumlah suara
terbanyak pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Medan yang dilaksanakan
dalam 2 putaran. Putaran pertama diikuti oleh 10 pasangan calon
walikota dan calon wakil walikota. Dalam putaran kedua, pasangan
Rahudman-Dzulmi bertemu dengan pasangan
Sofyan Tan-Nelly Armayanti. Rahudman Harahap dan Dzulmi Eldin dilantik pada tanggal 26 Juli 2010 di gedung DPRD Kota Medan oleh
Gubernur Sumatera Utara,
Syamsul Arifin, atas nama
Presiden Republik Indonesia,
Susilo Bambang Yudhoyono.
[2][3][4]
Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari
keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan
kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil
dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan
terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur
Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan
berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.
Secara administratif, batas wilayah Medan adalah sebagai berikut:
Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan
sumber daya alam (SDA), khususnya di bidang perkebunan dan kehutanan.
Karena secara geografis Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya
sumber daya alam, seperti Deli Serdang, Labuhan Batu, Simalungun,
Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan
lain-lain. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu
mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling
menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.
Di samping itu sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka,
Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan
perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar
negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Medan ini telah mendorong
perkembangan kota dalam dua kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah
Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.
Sedikitnya ada sembilan
sungai yang melintasi kota ini:
Selain itu, untuk mencegah banjir yang terus melanda beberapa wilayah
Medan, pemerintah telah membuat sebuah proyek kanal besar yang lebih
dikenal dengan nama Medan Kanal Timur.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Medan diperkirakan
telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari
pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut
diketahui merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap
diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk
komuter. Dengan demikian Medan merupakan salah satu kota dengan jumlah
penduduk yang besar.
Berdasarkan
Sensus Penduduk Indonesia 2010, penduduk Medan berjumlah 2.109.339 jiwa.
[6][7][8] Penduduk Medan terdiri atas 1.040.680 laki-laki dan 1.068.659 perempuan.
[6][7][8]
Di siang hari, jumlah ini bisa meningkat hingga sekitar 2,5 juta jiwa dengan dihitungnya jumlah
penglaju
(komuter). Sebagian besar penduduk Medan berasal dari kelompok umur
0-19 dan 20-39 tahun (masing-masing 41% dan 37,8% dari total penduduk).
Dilihat dari struktur umur penduduk, Medan dihuni lebih kurang
1.377.751 jiwa berusia produktif, (15-59 tahun). Selanjutnya dilihat
dari tingkat pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai
10,5 tahun. Dengan demikian, secara relatif tersedia tenaga kerja yang
cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan, baik jasa,
perdagangan, maupun industri manufaktur.
Laju pertumbuhan penduduk Medan periode tahun 2000-2004 cenderung
mengalami peningkatan—tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000
adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. Sedangkan tingkat
kapadatan penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per km² pada
tahun 2004. Jumlah penduduk paling banyak ada di Kecamatan Medan Deli,
disusul Medan Helvetia dan Medan Tembung. Jumlah penduduk yang paling
sedikit, terdapat di Kecamatan Medan Baru, Medan Maimun, dan Medan
Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi ada di kecamatan Medan
Perjuangan, Medan Area, dan Medan Timur. Pada tahun
2004, angka harapan hidup bagi laki-laki adalah 69 tahun sedangkan bagi wanita adalah 71 tahun.
Mayoritas penduduk kota Medan sekarang ialah
Suku Jawa, dan suku-suku dari
Tapanuli (
Batak,
Mandailing,
Karo). Di Medan banyak pula orang keturunan
India dan
Tionghoa. Medan salah satu kota di Indonesia yang memiliki populasi orang Tionghoa cukup banyak.
Keanekaragaman etnis di Medan terlihat dari jumlah
masjid,
gereja dan
vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh kota. Daerah di sekitar Jl. Zainul Arifin dikenal sebagai
Kampung Keling, yang merupakan daerah pemukiman orang keturunan India.
Secara historis, pada tahun
1918 tercatat bahwa Medan dihuni 43.826 jiwa. Dari jumlah tersebut, 409 orang berketurunan
Eropa, 35.009 berketurunan Indonesia, 8.269 berketurunan Tionghoa, dan 139 lainnya berasal dari ras Timur lainnya.
Perbandingan etnis di Kota Medan pada tahun 1930, 1980, dan 2000
| Etnis |
Tahun 1930 |
Tahun 1980 |
Tahun 2000 |
| Jawa |
24,89% |
29,41% |
33,03% |
| Batak |
2,93% |
14,11% |
20,93%* |
| Tionghoa |
35,63% |
12,8% |
10,65% |
| Mandailing |
6,12% |
11,91% |
9,36% |
| Minangkabau |
7,29% |
10,93% |
8,6% |
| Melayu |
7,06% |
8,57% |
6,59% |
| Karo |
0,19% |
3,99% |
4,10% |
| Aceh |
-- |
2,19% |
2,78% |
| Sunda |
1,58% |
1,90% |
-- |
| Lain-lain |
14,31% |
4,13% |
3,95% |
Sumber: 1930 dan 1980: Usman Pelly, 1983; 2000: BPS Sumut
*Catatan: Data BPS Sumut tidak menyenaraikan "Batak" sebagai suku
bangsa, total Simalungun (0,69%), Tapanuli/Toba (19,21%), Pakpak
(0,34%), dan Nias (0,69%) adalah 20,93% |
Angka Harapan Hidup penduduk kota Medan pada tahun 2007 adalah 71,4 tahun, sedangkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 adalah 148.100 jiwa.
[sunting] Kehidupan sosial
Sebagai kota terbesar di Pulau Sumatra dan di Selat Malaka, penduduk
Medan banyak yang berprofesi di bidang perdagangan. Biasanya pengusaha
Medan banyak yang menjadi pedagang komoditas perkebunan. Setelah
kemerdekaan, sektor perdagangan secara konsisten didominasi oleh etnis
Tionghoa dan Minangkabau. Bidang pemerintahan dan politik, dikuasai oleh
orang-orang Mandailing. Sedangkan profesi yang memerlukan keahlian dan
pendidikan tinggi, seperti pengacara, dokter, notaris, dan wartawan,
mayoritas digeluti oleh orang Minangkabau.
[14]
Komposisi Etnis Berdasarkan Okupasi Profesional[15]
| Aceh |
2,6% |
3,9% |
-- |
3,7% |
| Batak |
13,2% |
15,9% |
18,5% |
8,5% |
| Jawa |
5,3% |
15,9% |
11,1% |
10,4% |
| Karo |
5,3% |
10% |
7,4% |
0,6% |
| Mandailing |
23,6% |
14,1% |
14,8% |
18,3% |
| Minangkabau |
36,8% |
20,6% |
29,7% |
37,7% |
| Melayu |
5,3% |
5,9% |
3,7% |
17,7% |
| Sunda |
-- |
-- |
3,7% |
10,4% |
| Tionghoa |
-- |
14,7% |
7,4% |
1,2% |
[sunting] Pola pemukiman
Perluasan kota Medan telah mendorong perubahan pola pemukiman
kelompok-kelompok etnis. Etnis Melayu yang merupakan penduduk asli kota,
banyak yang tinggal di pinggiran kota. Etnis Tionghoa dan Minangkabau
yang sebagian besar hidup di bidang perdagangan, 75% dari mereka tinggal
di sekitar pusat-pusat perbelanjaan. Pemukiman orang Tionghoa dan
Minangkabau sejalan dengan arah pemekaran dan perluasan fasilitas pusat
perbelanjaan. Orang Mandailing juga memilih tinggal di pinggiran kota
yang lebih nyaman, oleh karena itu terdapat kecenderungan di kalangan
masyarakat Mandailing untuk menjual rumah dan tanah mereka di tengah
kota, seperti di Kampung Mesjid, Kota Maksum, dan Sungai Mati.
[14]
[sunting] Situs pariwisata
Ada banyak bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas
Belanda.
Contohnya: Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air (yang
merupakan ikon kota Medan), Titi Gantung - sebuah jembatan di atas rel
kereta api, dan juga Gedung London Sumatera.
Selain itu, masih ada beberapa bangunan bersejarah, antara lain
Istana Maimun,
Mesjid Raya Medan, dan juga rumah
Tjong A Fie di kawasan Jl. Jend. Ahmad Yani (
Kesawan).
Daerah Kesawan masih menyisakan bangunan-bangunan tua, seperti
bangunan PT. London Sumatra, dan ruko-ruko tua seperti yang bisa
ditemukan di
Penang,
Malaysia dan
Singapura.
Ruko-ruko ini, kini telah disulap menjadi sebuah pusat jajanan makan
yang ramai pada malam harinya. Saat ini Pemerintah Kota merencanakan
Medan sebagai Kota Pusat Perbelanjaan dan Makanan. Diharapkan dengan
adanya program ini menambah arus kunjungan dan lama tinggal wisatawan ke
kota ini.
Di daerah Kesawan ini, terdapat Kantor Notaris/PPAT Hj. Chairani
Bustami, S.H. yang merupakan salah satu Notaris tertua di Medan, setelah
Alm. A.P. Parlindungan, S.H. Saat ini Hj. Chairani telah pensiun dan
aktif mengajar di
Universitas Sumatera Utara. Aktivitas kantor ini kemudian digantikan oleh putra-putrinya yang juga meneruskan profesi orang tuanya sebagai Notaris.
[sunting] Bangunan Tua
- Kantor Balai Kota
- Kantor Pos Pusat
- Stasiun Kereta Api Lama
- Menara Bakaran Batu
- Istana Maimoon
- Menara Air Tirtanadi
- Tjong A Fie Mansion
- PT PP London Sumatera
- Grand Angkasa International Hotel
- Danau Toba International Hotel
- JW Marriott
- Grand Aston City Hall
- Grand Swissbell Hotel
- The Aryaduta Hotel
- Hotel Citi International
- Santika Premiere Dyandra Hotel
- Hotel Deli River
- Garuda Plaza Hotel
- Alpha Inn
- Grand Delta Hotel
- Asean International Hotel
- Hotel Soechi International
- Hotel Tiara Medan
[sunting] Tempat Ibadah
- Masjid Raya Al-Mashun
- Graha Bunda Maria Annai Velangkani
- Katedral Roma Katholik
- Kuil Shri Mariamman
- Maha Vihara Maitreya
- Kelenteng Gunung Timur
[sunting] Wisata Kuliner
- Merdeka Walk, pusat jajanan 24 jam yang terletak di Lapangan Merdeka Medan dan tepat berada di seberang Balai Kota Medan.
- Ramadhan Fair, khusus dibuka pada saat bulan puasa (Ramadhan) terletak bersebelahan dengan Mesjid Raya Medan.
- Kuliner Pagaruyung, masakan India & Indonesia di daerah "Kampung Keling" ("Kampung Madras").
- Pasar Merah Square, terletak di Jalan H.M. Jhoni, berdekatan dengan Kampus ITM & UMSU.
- Amaliun Food Court, terletak di Jalan Amaliun, dekat dengan Yuki Simpang Raya.
- Jalan Dr. Mansyur (Kampus USU), pilihan berbagai cafe yang menawarkan beragam hidangan.
- Jalan Semarang, masakan Tionghoa pada malam hari.
[sunting] Transportasi
Tampak dua becak motor sedang melintas di jalanan Medan.
Terminal yang melayani warga Medan:
Keunikan Medan terletak pada
becak bermotornya (
becak mesin/ becak motor) yang dapat ditemukan hampir di seluruh Medan. Berbeda dengan
becak biasa (
becak dayung),
becak motor dapat membawa penumpangnya kemana pun di dalam kota. Selain
becak, dalam kota juga tersedia angkutan umum berbentuk
minibus (angkot/
oplet) dan
taksi.
Pengemudi becak berada di samping becak, bukan di belakang becak
seperti halnya di Jawa, yang memudahkan becak Medan untuk melalui jalan
yang berliku-liku dan memungkinkan untuk diproduksi dengan harga yang
minimal, karena hanya diperlukan sedikit modifikasi saja agar
sepeda atau
sepeda motor biasa dapat digunakan sebagai penggerak becak. Desain ini mengambil desain dari sepeda motor gandengan perang Jerman di
Perang Dunia II.
Sebutan paling khas untuk angkutan umum adalah
Sudako. Sudako pada awalnya menggunakan minibus
Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Bentuknya merupakan modifikasi dari mobil
pick up.
Pada bagian belakangnya diletakkan dua buah kursi panjang sehingga
penumpang duduk saling berhadapan dan sangat dekat sehingga
bersinggungan lutut dengan penumpang di depannya.
Trayek pertama kali
sudako adalah "Lin 01", (Lin sama dengan
trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jl. HM. Joni), Jl.
Amaliun dan terminal Sambu, yang merupakan terminal pusat pertama
angkutan penumpang ukuran kecil dan sedang. Saat ini "Daihatsu S38 500
cc" sudah tidak digunakan lagi karena faktor usia, dan berganti dengan
mobil-mobil baru seperti
Toyota Kijang,
Isuzu Panther,
Daihatsu Zebra, dan
Espass.
Selain itu, masih ada lagi angkutan lainnya yaitu
bemo, yang berasal dari
India. Beroda tiga dan cukup kuat menanjak dengan membawa 11 penumpang. Bemo kemudian digantikan oleh
Bajaj yang juga berasal dari India, yang di Medan dikenal dengan nama "toyoko".
Kereta api menghubungkan Medan dengan
Tanjungpura di sebelah barat laut,
Belawan di sebelah utara, dan
Binjai-
Tebing Tinggi-
Pematang Siantar dan
Tebing Tinggi-
KisaranTanjungbalai-Rantau Prapat di tenggara.
Jalan Tol Belmera menghubungkan Medan dengan
Belawan dan
Tanjung Morawa. Jalan tol Medan-
Lubuk Pakam dan
Medan-Binjai juga sedang direncanakan pembangunannya.
Kuli Cina dari
Shantou melabuh di Belawan.
Pelabuhan Belawan terletak di bagian utara kota. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan Indonesia tersibuk di luar pulau Jawa. Layanan
kapal feri menghubungkan Belawan dengan
Penang,
Malaysia.
Bandar Udara Internasional Polonia yang terletak tepat di jantung kota, menghubungkan Medan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti
Banda Aceh,
Padang,
Pekanbaru,
Batam,
Palembang,
Jakarta,
Gunung Sitoli serta
Kuala Lumpur,
Penang,
Ipoh,
Alor Setar di
Malaysia, dan
Singapura. Sebuah bandara internasional baru di
Kuala Namu di kabupaten
Deli Serdang sedang dalam pembangunan.
Stasiun televisi yang ada di Kota Medan antara lain adalah
ANTV,
Global TV,
Indosiar,
MetroTV,
MNCTV,
RCTI,
SCTV,
Trans TV,
Trans7,
tvOne,
TVRI Sumatera Utara (
TVRI),
Deli TV (
SINDOtv),
TV Anak Medan (
TV Anak Spacetoon),
CNTV (
B-Channel) dan
DAAI TV Medan (
DAAI TV). Seluruh stasiun televisi milik pemerintah dan swasta bersiaran nasional memiliki koresponden dan biro di Kota Medan.
Di Kota Medan, terdapat banyak surat kabar yang beredar, seperti harian
Harian Waspada,
Harian Sinar Indonesia Baru, dan
Harian Analisa. Beberapa surat kabar kota Medan yang lain yaitu:
Harian Medan Bisnis, Posmetro Medan, Harian Global, dan Harian Berita Sore.
[sunting] Pusat perbelanjaan
[sunting] Plaza dan Mal
- Deli Plaza, Sinar Plaza, Menara Plaza, digabung menjadi satu dengan nama "Deli Grand City".
- Grand Palladium, terletak di Medan Petisah.
- Plaza Medan Fair, terletak di Medan Petisah.
- Medan Mall, terletak di Pusat Pasar.
- Medan Plaza,
satu di antara plaza tertua di Medan. Plaza ini berhasil bertahan
karena tetap mempertahankan penyewa kios yang menyediakan beragam barang
dan jasa yang ekonomis.
- Millenium Plaza, pusat penjualan telepon genggam, dulu bernama "Tata Plaza" sampai dengan tahun 1999.
- Sun Plaza, terletak di dekat Kantor Gubernur Sumatera Utara di Medan Petisah.
- Cambridge City Square, di atasnya terdapat 4 bangunan yang berupa apartemen.
- Thamrin Plaza, terletak di Medan Area, Medan.
- Perisai Plaza, sejak tahun 2006 Perisai Plaza mulai tutup secara perlahan.
- Olympia Plaza, satu di antara plaza tertua di Medan,
bersebelahan dengan Medan Mall. Namun kini sudah tidak beroperasi
sebagai tempat grosir pakaian, sepatu dan barang pecah belah.
- Brastagi Mall, awalnya bernama Price Mart. Selanjutnya berganti nama menjadi The Club Store. Setelah direnovasi, plaza ini berganti nama menjadi Mall The Club Store. Dan akhirnya berganti nama menjadi Brastagi Mall.
- Hong Kong Plaza - Novotel Soechi
- Macan Group (Macan Yaohan, Macan Syariah, Macan Mart, Macan Mart Syariah)
- Lotte Mart Wholesale, dulu bernama Makro.
- Yuki Pasar Raya dan Yuki Simpang Raya
- Yanglim Plaza
- Pusat Pasar,
salah satu pasar tradisional tua di Medan yang sudah ada sejak zaman
kolonial. Menyediakan beragam kebutuhan pokok dan sayur mayur.
- Pasar Petisah.
pemerintah kota menggabungkan pasar tradisional dan pasar modern. Tak
heran jika sekarang tampilannya tidak kumuh dan becek seperti pasar
tradisional umumnya. Pasar Petisah menjadi acuan berbelanja yang murah
dan berkualitas.
- Pasar Beruang, terletak di Jalan Beruang.
- Pasar Simpang Limun, salah satu pasar tradisonal yang cukup
tua dan menjadi merek dagang kota Medan. Terletak di persimpangan Jalan
Sisingamangaraja dan Jalan Sakti Lubis. Saat ini sedang dalam tahap
penataan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas akibat kesibukan pasar
ini.
- Pasar Sukaramai, pasar ini terletak di persimpangan Jalan Aksara & Jalan Thamrin yang bersebelahan dengan Thamrin Plaza.
- Pasar Simpang Melati, pasar ini terkenal sebagai tempat
perdagangan pakaian bekas dan menjadi lokasi favorit baru para pemburu
pakaian bekas setelah Pasar Simalingkar dan Jl. Pancing. Pasar Simpang
Melati ramai dikunjungi pada akhir pekan.
- Pasar Ikan Lama, pasar ini tidak menjual ikan, pasar ini
memasarkan tekstil yang cukup terkenal, bahkan tak jarang dijadikan
sebagai obyek kunjungan wisata bagi para turis asing.
Ada keunikan tersendiri dalam pengucapan Pasar di kalangan masyarakat di
Medan. Orang Medan biasanya menyebut Pasar dengan sebutan Pajak seperti
menyebut Pajak Petisah, Pajak Ikan Lama, dll sehingga orang dari luar
daerah Kota Medan bingung dengan mengira merujuk kepada kantor Dinas
Perpajakan. Tidak diketahui asal-usul kebiasaan pengucapan ini di
Kalangan Masyarakat di Kota Medan.
Beberapa klub olahraga yang terdapat di Medan antara lain klub sepak bola:
PSMS Medan,
Medan Jaya,
Medan Chiefs,
Bintang PSMS Medan dan
Medan United; dan klub basket:
Angsapura Sania. Gelanggang olahraga yang terdapat di Medan antara lain
Stadion Teladan,
Stadion Kebun Bunga, dan
GOR Angsapura. Sedangkan lapangan berolahraga adalah
Lapangan Merdeka,
Lapangan Persit Chandra Kirana (Jalan Gaperta), dan
Lapangan Benteng.
[sunting] Pekan Olahraga Kota Medan
Sejak tahun 2009, KONI Kota Medan dam pemerintah Kota Medan
mengadakan Pekan Olahraga Kota (Porkot). Pembukaan dan penutupan Porkot
dilaksanakan di Stadion Teladan.
[17][18]
Porkot 2009 dilaksanakan tanggal 11-18 Agustus 2009 mempertandingkan 30 cabang olahraga.
[17] Kecamatan Medan Helvetia menjuarai Porkot ini.
[19][20]
Porkot 2010 dilaksanakan tanggal 11-18 Desember 2010 mempertandingkan 32 cabang olahraga.
[21][22] Kecamatan Medan kota menjuarai porkot ini.
[19]
Porkot 2011 dilaksanakan tanggal 15-22 Oktober 2011 mempertandingkan 33 cabang olahraga.
[18]
Kecamatan Medan Kota menjuarai Porkot ini dengan kecamatan Medan
Helvetia berada di peringkat kedua dan kecamatan Medan Denai berada di
peringkat ketiga.
[23][24][25]