kENANGAN

kENANGAN
My Friend

WELCOME IN M.HAMZAH MAGINTING

Disini kwan2 biasa melihat seputaran informasi tentang dunia maya n dunia sesungguhnya,dan kawan2 biasa berbagi informasi.
dan ko ada kawan2 yang mau curhat juga bisa
saya siap berikan solusinya..
tank's dah mampir di blogs saya n sering-sering mampir yooo.........

Jangan lupa join ya....!!!

Jumat, 04 Mei 2012

Materi KUliah MI

  • semester 8
  • Mata kuliah Tambahan

Kecewa Karna Cinta

Pemuda Bakar Diri Karena Putus Cinta Akhirnya Tewas

Posted by lihatberita | Pada : 1:18 PM


Suhadak tidak mampu melewati masa kritisnya selama 10 hari. Pemuda berusia 25 tahun yang membakar dirinya setelah putus cinta tersebut akhirnya meregang nyawa, pada Kamis (03/05/2012). Jenazah Hadak, sapaan akrabnya langsung dibawa pulang ke Dusun Ringin Agung, Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri untuk dimakamkan.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Luka bakarnya memang sangat parah yaitu 95 persen. Jarang korban luka bakar dalam kondisi tersebut mampu bertahan," ujar humas RSUD Pelem, Kecamatan Pare, tempat dimana Hadak menjalani perawatan selama empat hari.

Terpisah, Kapolsek Kepung, AKP A. Trihandoko mengatakan, keluarga Hadak sudah menyadari dan menerima kematian Hadak. Pihak keluarga, melalui Robiatun Nikmah, kakaknya juga telah membuat surat pernyataan, tidak akan melakukan penuntutan atau mempersoalkan kematian Hadak.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hadak nekat membakar diri usai putusa cinta dengan Ulva (21) tetangganya, Minggu (29/04/2012) sore lalu. Hadak gelap mata setelah dipanggil dan diadili oleh Askanah (39) ibu Ulva, siang harinya. Dia mengambil sebotol bensin ukuran 1 liter dari kios ayahnya, kemudian menyiramkan pada tubuhnya dan menyulut dengan korek api.

Aksi bakar diri itu berlangsung di rumah korban. Para tetangga sempat menyelamatkan korban dari kobaran api yang melalap tubuhnya. Luka bakarnya sangat parah, hampir 100 persen. Dia dilarikan ke RSUD Pelem. Dokter yang menanganinya menempatkan Hadak di ruang isolasi dengan tujuan agar kamarnya steril. Dokter juga menyarankan agar Hadak dirujuk RSUD Dr Soetomo.

Tetapi atas petimbangan biaya dan peluang Hadak untuk sembuh yang sudah sangat kecil, akhirnya keluarga memilih bertahan. Nikmah, kakak Hadak yang sehari-hari menunggunya bersikeras supaya hadak tetap di rawat di rumah sakit milik Pemkab Kediri, supaya para keluarga dan tetangga bisa menjenguknya sewaktu-waktu.

Terpisah, Ulva mengakui, sebelum Hadak bakar diri memang telah terjadi insiden di rumahnya. Hadak datang dengan maksud menyerahkan Ulva pada orang tuanya, karena hubungan asmaranya sudah putus. Bahkan, kata Ulva jalinan kasih itu sudah kandas jauh hari sebelum Hadak datang menemui ibunya Askanah. Ulva tidak menyangka, Hadak akan berbuat senekat itu.

Sementara Ny Askanah meminta supaya aksi bakar diri yang dilakukan Hadak tidak disangkut pautkan dengan anak dan keluarganya. Ny Askanah juga menolak telah mengadili Hadak. Katanya, Hadak datang untuk menyatakan telah putus hubungan dengan putrinya dan berjanji tidak akan mengganggu.

Kamis, 03 Mei 2012

laptop>>harga dan jenisya


Rabu, 02 Mei 2012

Tokoh Pejuang Suku Karo

Kiras Bangun (Garamata)


Motto perjuangannya:
“Namo bisa jadi aras, Aras bisa jadi namo” Hari ini Bisa Saja Kita Kalah, Tapi Besok Kita Pasti Menang.
 
   Kiras Bangun adalah seorang pahlawan nasiaonal Indonesia yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005.Kiras Bangun menggalang kekuatan lintas agama dan lintas suku di Sumatra Utara dan Aceh, untuk menentang penjajahan Belanda. Beliau merupakan tokoh dan sesepuh adat Karo kelahiran tahun 1852, di kampung Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.
Dalam melakukan perjuangan dengan melawan penjajahan Belanda, beliau melakukan Kerjasama yang digalang dari lintas etnis dan agama yang menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Urung, yang beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo. Kiras Bangun alias Garamata lahir dari seorang ayah yang menguasai adat-istiadat Karo di daerahnya Batukarang. Ayahnya memiliki 3 orang istri. Kiras Bangun 5 bersaudara,1 orang perempuan dan 4 orang laki-laki.
  Pada masa mudanya Kiras Bangun di sekolahkan di Binjai dan menguasai bahasa Melayu serta aksara Karo. Sejak berusia muda, Kiras Bangun dikenal sebagai Tokoh yang bijak melakukan pembelaan, terhadap hak-hak rakyat yang ingin dirampas oleh penjajahan kolonial Belanda, yang menjajah bangsanya. Selama hidupnya, Kiras Bangun mempunyai 4 jabatan yaitu :
1) Sebagai Sesepuh dan Ketua Adat Karo, Urung Lima Senina.
2) Penghulu Lima Senina Batu Karang.
3) Juru damai perang antar desa.
4) Pemimpin Urung Tanah Karo.
Tahun 1901 Belanda membuka Markasnya di Kabanjahe, Kiras Bangun bersama pasukannya mengusirnya dengan paksa. Tahun 1902 Belanda datang kembali ke Kabanjahe, dengan pasukan yang lebih banyak. Kiras Bangun mengultimatum Belanda agar segera meninggalkan Tanah Karo, dalam kaitan itu, Kiras Bangun menyusun strategi peperangan. Karena kedudukan musuh di Kabanjahe, maka disusun benteng pertahanan terdepan, yang merupakan garis pertahanan sepanjang jalan Surbakti-Lingga Julu (Kabanjahe Selatan) dan sepanjang jalan Kandibata-Kacaribu (Kabanjahe Barat) sedangkan pucuk pimpinan (Pos Komando) Garamata berkedudukan di Beganding (Kabanjahe Tenggara) untuk memudahkan pelaksanaan komando.
Ultimatum Garamata kepada pejabat Belanda Guillaume yang sudah menduduki Kabanjahe, untuk kedua kalinya tidak mendapat tanggapan, bahkan mendatangkan pasukan atau marsuse Belanda lebih banyak lagi. Serdadu Belanda dengan pengawalnya yang terdiri dari pribumi, yang sudah di rekrut Belanda untuk melawan bangsanya sendiri, sudah diperkuat lagi dari kekuatan sebelumnya.
Patroli-patroli Belanda menghadapi perlawanan pasukan Urung mengakibatkan terjadinya tembak-menembak. Dimaklumi memang bahwa daya tempur pasukan Simbisa/Urung terbatas pada tembak lari atau sergap “bacok lari”, kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Begitu pula benteng-benteng pertahanan dengan senjata pedang, parang, tombak, bedil locok dan senapang mesiu yang sederhana dan yang terbatas tidak mendukung untuk bertahan lama. Adapun tembak-menembak terjadi tidak seimbang dan pihak Belanda memiliki senjata yang lebih mutakhir sedangkan di pihak Simbisa atau pasukan Urung mempunyai senjata yang kalah jauh dari perlengkapan Belanda.
Satu demi satu benteng pertahanan pasukan Simbisa/Urung dapat dikuasai musuh, seperti benteng pertahanan Lingga Julu, meminta korban jiwa, termasuk pimpinan pasukannya tewas tertembak. Pertempuran pada tanggal 15 September 1904, mengakibatkan benteng pertahanan Kandibata yang dibantu pasukan dari Aceh Tenggara ditarik ke garis belakang. Benteng Mbesuka dan Tembusuh di Batukarang, dikuasai Belanda. Mujur atas dorongan para ibu dengan sorak sorai beralep-alep merupakan dorongan semangat tempur tetap tinggi. Pasukan Urung terpaksa membayar mahal dan tidak kurang dari 30 orang tertembak mati, seorang diantaranya perwira. Seusai pertempuran pasukan Urung menyingkir ke Negeri, 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal.
   Walaupun pasukan Simbisa/Urung sudah berpencar, keesokan harinya ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran, maka pasukan Simbisa/Urung berangkat menuju Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal sebagai basis pertahanan. Dijelaskan, bahwa daerah ini termasuk Dairi yang berbatasan dengan aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, kurang subur, berpenduduk jarang sehingga cocok menjadi basis gerillya tetapi lemah dalam dukungan logistik.
Kampung Negeri, sebagai sebagai daerah penyingkiran pasukan Garamata, sehingga semua rencana diatur dari basis ini, baik untuk kontak hubungan dengan daerah tetangga maupun mengganggu patroli-patroli Belanda, yang secara rutin melewati Liren dan daerah sekitarnya. Garamata dalam pengarahannya kepada pasukan Simbisa/Urung membuat pesan dari pedalaman antara lain, teruskan perjuangan melawan Belanda dimana saja semampu yang dimiliki dengan motto:
“namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” yang artinya dalam perjuangan ini, hari ini bisa saja kita kalah, akan tetapi bila perjuangan ini kita teruskan tanpa henti dan lelah, maka besok pasti kita akan menang dalam perjuangan yang suci untuk membela dan mempertahankan Tanah air, mata dan pasukannya jadi sasaran serangan mendadak oleh pasukan Belanda, seusai Batukarang diduduki, Nd. Releng br Ginting istri Garamata menderita luka tembak, sembari Garamata dan pasukannya menduduki Singgamanik dan sekitarnya.
Tahun 1904 Kiras Bangun dan pasukannya mengadakan perang terbuka menghadapi Belanda di desa Lingga, Batu Karang, Negeri dan Liren, Tahun 1905 ke Aceh untuk bergabung dengan Pejuang Aceh melakukan gerilya dan sabotase pada saat Belanda membuka jalan Medan-Kotacane. Dalam melakukan perjuangannya,Kiras Bangun terkenal dengan sumpah perjuangannya dengan para pasukannya yang berbunyi ;
SUMPAH PERJUANGAN GARAMATA
Tangar ko nakan si nipan kami enda,
Tangar ko bengkau si nipan kami enda,
Tang m kami enda,
Kami ersumpah bekas arih – arih kami ersada ngelawan Belanda
Adi ia reh ku Tanah Karo njajah kami
Ras ipelawes sienggo ringan I kabanjahe si bagi
Mara – mata Belanda.
Ndigan pagi kami engkar ibas perbelawanen kami enda
Mate kami ibunuh nakan, ibunuh bengkau, ibunuh lau
Si ni inem kami enda janah keturunen kami
La nai banci selamat merjak Tanah Karo enda.
Arti Sumpah Perjuangan Garamata:
Nasi yang kami makan lah lauk yang kami makanlah air yang kami minum
Kami Bersumpah atas kata sepakat Bersumpah bersatu melawan Belanda Kalau mereka datang menjajah Tanah Karo. Diusir bersama mata mata mereka yang tinggal di Kaban Jahe
Kalau kami Ingkari sumpah iniMaka Matilah kami karena nasi, lauk dan air yang kami minumDan keturunan kami tidak akan selamat menginjak Tanah Karo.
  Pada kesempatan lain Garamata berangkat ke Singkil dengan tujuan menemui teman seperjuangannya Sultan Daulat tetapi tidak ketemu. Tidak ada keterangan diperoleh selain Aceh Selatan dan Aceh Tenggara sudah dikuasai Belanda sehingga hubungan antara kedua pihak menjadi terputus. Perlu dijelaskan bahwa waktu hendak kembali ditengah jalan ketemu dengan marsuse Belanda, Garamata dapat mengelabuinya dengan menyamar sebagai pengail.
Dalam perjalanan pulang ke Lau Petundal, Garamata singgah di Lau Njuhar, tidak lama kemudian pasukan Belanda datang mengepung. Posisi Garamata dalam bahaya dan diatur bersembunyi dalam satu rumah. Sementara itu Garamata dipersiapkan menyamar seperti seorang perempuan yang baru melahirkan dengan muka disemburi pergi kepancuran, dengan demikian loloslah Garamata dari serangan Belanda. Pendudukan Belanda atas Batukarang dengan mengerahkan sebanyak 200 orang marsuse Belanda bersenjata lengkap ternyata belum memulihkan keamanan. Patroli Belanda tetap mendapat perlawanan walau tidak secara frontal.
Betapapun usaha yang diupayakan Belanda, untuk menangkap tokoh-tokoh Urung terutama Garamata tidak berhasil, sehingga semua rencana Belanda memperkuat kedudukannya seperti membuka jalan dari Kabanjahe ke Alas, mengutip blasting, menjalankan roda pemerintahan selalu terganggu dan tidak dapat dijalankan. Maka dikeluarkan opportinuteits beginsiel terhadap Kiras Bangun atau Garamata bersama pengikut-pengikutnya.
Mengingat banyaknya rakyat korban akibat tindakan marsuse Belanda yang semakin membabi buta seperti peristiwa di Kuta Rih disamping itu disadari bahwa pasukan tidak dapat bertahan lebih lama mengingat keadaan yang sudah parah, terutama disebabkan hubungan dengan Alas, Gayo, Singkil sudah tertutup, pada saat mana Belanda menawarkan opportinuteits maka Garamata bersama anak buahnya berunding untuk mengambil keputusan. Dengan pertimbangan prikemanusiaan dan untuk menghindari rakyat menjasdi korban yang lebih banyak, maka penawaran Belanda atas opportinuteits beginsiel, diterima dengan berat hati dan bertekad untuk menyusun kekuatan, sehingga pada suatu saat, dapat bangkit kembali mengusir Belanda. Ternyata Belanda tidak mentaati tawaran sendiri, karena Garamata tetap dihukum dalam bentuk pengasingan di salah satu tempat di perladangan Riung selama 4 tahun. Kiras yang juga dikenal dengan nama Garamata itu akhirnya dibuang ke Cipinang bersama kedua anaknya antara tahun 1919-1926. Kiras Bangun atau Garamata gugur pada tanggal 22 Oktober 1942.
   Menurut almarhum Mulia Tarigan mantan ketua umum Yayasan Garamata, semangat perjuangan Kiras Bangun patut menjadi teladan. Falsafah hidup Kiras Bangun mementingkan kehidupan bersama dibandingkan dirinya sendiri. Jika Amerika Serikat bisa bangkit dari masa krisis tahun 1930-an karena sosok Presiden Franklin Delano Rosevelt, maka sosok seperti Kiras Bangun ini bisa menjadi teladan agar bangsa ini juga bisa bangkit dari krisis. Pemberian gelar pahlawan nasional ini tidak seperti membalik telapak tangan. Perlu waktu 12 tahun untuk mendapatkannya. Kami berharap gelar ini tidak hanya sekadar penghormatan, tetapi juga agar kami sebagai masyarakat Karo semakin bisa meneladani sosok Kiras Bangun. Kiras Bangun juga memimpin gerakan bawah tanah di daerah tersebut. Ujar Mulia Tarigan dalam kata sambutannya.
Kiras Bangun atau yang oleh masyarakat Karo dikenal dengan sebutan Garamata (mata merah) merupakan tokoh adat Karo yang berjuang melawan penjajah Belanda pada tahun 1901-1905. Kiras Bangun memimpin lebih dari 3.000-an warga Karo yang menolak Tanah Karo dijadikan kawasan perkebunan oleh Belanda. Pasukannya terkenal dengan sebutan Pasukan Urung (kampung) karena dia mengorganisir beberapa kampung di Tanah Karo untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda. ”Dia mungkin sedikit dari sosok pahlawan yang kepemimpinannya ditunjuk langsung oleh rakyat di Tanah Karo.
Filosofi Kiras Bangun yang turun-temurun dikenal oleh masyarakat Karo adalah ajarannya tentang pendidikan. Kiras Bangun mengajarkan agar kami harus menjadi orang yang cerdas jika tidak ingin dijajah bangsa lain. Ajaran seperti ini masih terasa sangat cocok untuk jadi pegangan hidup. Apalagi bangsa Indonesia saat ini secara ekonomi terjajah oleh bangsa-bangsa yang lebih maju. Secara resmi Kiras Bangun ditetapkan menjadi pahlawan nasional setelah melalui penelitian dari 13 tim ahli, di antaranya pakar sejarah Anhar Gonggong dan Taufik Abdullah.
Kiras Bangun yang meninggal dunia tahun 1942, meninggalkan keturunan anak dan cucunya yang mengamalkan falsapahnya di bidang pendidikan, sehingga keturunannya banyak yang sukses dalam bidang pendidikan, politik dan birokrat, diantaranya, anaknya sendiri Mayor Purn Payung Bangun, mantan Komandan Barisan Harimau Liar (BHL) di masa perjuangan kemerdekaan RI, Dr Ingan Raja Bangun (Alm), Prof. Dr. Iman Bangun (Guru Besar IPB), Ir.Berontak Bangun (Dosen ISTP Medan), Drs Aksi Bangun (Mantan anggota DPRD Sumut (1999-2004) dan Drs Umar Bangun, Mantan Kakanwil Kehakiman SumutSegenap elemen masyarakat di Sumut dimanapun berada hendaknya secara aktif mensosialisasikan nilai nilai kepahlawanan Kiras Bangun atau Garamata serta berjuang untuk merealisasikan namanya menghias nama jalan utama atau Protokol di kota Medan serta mewujudkan Pembangunan Tugu Pahlawan Nasional Kiras Bangun atau Garamata di Kota Medan seperti halnya Tugu Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII yang telah berdiri dengan megah di Kota Medan.

Cerita tentang Islam

KISAH UNTA MEMATAHKAN RANCANGAN ABU JAHAL UNTUK MEMBUNUH RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Setelah pelbagai usaha oleh kaum Quraisy untuk menyekat dan menghapuskan penyebaran agama Islam menemui kegagalan, maka Abu Jahal semakin benci terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kebencian Abu Jahal ini tidak ada tolok bandingnya, malah melebihi kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Melihatkan agama Islam semakin tersebar, Abu Jahal pun berkata kepada kaum Quraisy di dalam suatu perhimpunan, "Hai kaumku! Janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hatinya. Ini adalah kerana dia telah menghina agama nenek moyang kita, dia mencela tuhan yang kita sembah. Demi Tuhan, aku berjanji kepada kamu sekalian, bahwa esok aku akan membawa batu ke Masjidil Haram untuk dibalingkan ke kepala Muhammad ketika dia sujud. Selepas itu, terserahlah kepada kamu semua samada mahu menyerahkan aku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kaum kerabatnya. Biarlah orang-orang Bani Hasyim bertindak apa yang mereka sukai."

Tatkala mendengar jaminan daripada Abu Jahal, maka orang ramai yang menghadiri perhimpunan itu berkata secara serentak kepadanya, "Demi Tuhan, kami tidak akan sekali-kali menyerahkan engkau kepada keluarga Muhammad. Teruskan niatmu."

Orang ramai yang menghadiri perhimpunan itu merasa bangga mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abu Jahal bahwa dia akan menghapuskan Muhammad kerana jika Abu Jahal berjaya menghapuskan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bererti akan terhapuslah segala keresahan dan kesusahan mereka selama ini yang disebabkan oleh kegiatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebarkan agama Islam di kalangan mereka.

Dalam pada itu, terdapat juga para hadirin di situ telah mengira-ngira perbelanjaan untuk mengadakan pesta sekiranya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berjaya dihapuskan. Pada pandangan mereka adalah mudah untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Esa serta sekalian penghuni langit. Padahal Allah tidak akan sekali-kali membiarkan kekasih-Nya diancam dan diperlakukan seperti binatang.

Dengan perasaan bangga, keesokan harinya di sebelah pagi, Abu Jahal pun terus pergi ke Kaabah iaitu tempat biasa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersembahyang. Dengan langkahnya seperti seorang satria, dia berjalan dengan membawa seketul batu besar di tangan sambil diiringi oleh beberapa orang Quraisy yang rapat dengannya. Tujuan dia mengajak kawan-kawannya ialah untuk menyaksikan bagaimana nanti dia akan menghempapkan batu itu di atas kepala Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sepanjang perjalanan itu dia membayangkan bagaimana keadaan Nabi Muhammad nanti setelah kepalanya dihentak oleh batu itu. Dia tersenyum sendirian apabila membayangkan kepala Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pecah dan tidak bergerak lagi. Dan juga membayangkan bagaimana kaum Quraisy akanmenyambutnya sebagai pahlawan yang telah berjaya membunuh musuh nombor satu mereka.

Sebaik saja Abu Jahal tiba di perkarangan Masjidil Haram, dilihatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baru saja sampai dan hendak mengerjakan sembahyang. Dalam pada itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyedari akan kehadiran Abu Jahal dan kawan-kawannya di situ. Baginda tidak pernah terfikir apa yang hendak dilakukan oleh Abu Jahal terhadap dirinya pada hari itu.

Sebaik-baik saja Abu Jahal melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mula bersembahyang, dia berjalan perlahan-lahan dari arah belakang menuju ke arah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Jahal melangkah dengan berhati-hati, setiap pergerakannya dijaga, takut disadari oleh baginda.

Dari jauh kawan-kawan Abu Jahal memerhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira. Dalam hati mereka berkata, "Kali ini akan musnahlah engkau hai Muhammad."

Sebaik saja Abu Jahal hendak menghampiri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menghayun batu yang dipegangnya itu, tiba-tiba secepat kilat dia berundur ke belakang. Batu yang dipegangnya juga jatuh ke tanah. Mukanya yang tadi merah kini menjadi pucat lesi seolah-olah tiada berdarah lagi. Rakan-rakannya yang amat ghairah untuk melihat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam terbunuh, tercengang dan saling berpandangan.

Kaki Abu Jahal seolah-olah terpaku ke bumi. Dia tidak dapat melangkahkan kaki walaupun setapak. Melihatkan keadaan itu, rakan-rakannya segera menarik Abu Jahal dari situ sebelum disadari oleh baginda. Abu Jahal masih terpinga-pinga dengan kejadian yang dialaminya.
Sebaik saja dia sedar dari kejutan peristiwa tadi, rakan-rakannya tidak sabar untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah berlaku. Kawannya bertanya, "Apakah sebenarnya yang terjadi kepada engkau, Abu Jahal? Mengapa engkau tidak menghempapkan batu itu ke kepala Muhammad ketika dia sedang sujud tadi?"

Akan tetapi Abu Jahal tetap membisu, rakan-rakannya semakin keheranan. Abu Jahal yang mereka kenali selama ini seorang yang lantang berpidato dan menyumpah seranah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba saja diam membisu.

Dalam pada itu, Abu Jahal masih terbayang-bayang akan kejadian yang baru menimpanya tadi. Dia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, malah dia sendiri tidak menyangka perkara yang sama akan berulang menimpa dirinya.

Perkara yang sama pernah menimpa Abu Jahal sewaktu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi ke rumah Abu Jahal apabila seorang Nasrani mengadu kepada baginda bahwa Abu Jahal telah merampas hartanya. Pada masa itu Abu Jahal tidak berani berkata apa-apa pada baginda apabila dia terpandang dua ekor harimau menjadi pengawal peribadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Kemudian setelah habis mereka menghujani Abu Jahal dengan pelbagai soalan, maka Abu Jahal pun mula bersuara, "Wahai sahabatku! Untuk pengetahuan kamu semua, sebaik saja aku menghampiri Muhammad hendak menghempapkan batu itu ke kepalanya, tiba-tiba muncul seekor unta yang besar hendak menendang aku. Aku amat terkejut kerana belum pernah melihat unta yang sebegitu besar seumur hidupku. Sekiranya aku teruskan niatku, nescaya akan matilah aku ditendang oleh unta itu, sebab itulah aku berundur dan membatalkan niatku."
Rakan-rakan Abu Jahal berasa amat kecewa mendengar penjelasan itu, mereka tidak menyangka orang yang selama ini gagah dan beria-ia hendak membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya tinggal kata-kata saja. Orang yang selama ini diharapkan boleh menghapuskan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pengaruhnya hanya berupaya bercakap seperti tin kosong saja.

Setelah mendengar penjelasan dari Abu Jahal yang tidak memuaskan hati itu, maka mereka pun berkata kepada Abu Jahal dengan perasaan keheranan, "Ya Abu Jahal, semasa kau menghampiri Muhammad tadi, kami memerhatikan engkau dari jauh tetapi kai tidak napak akan unta yang engkau katakan itu. Malah bayangnya pun kami tidak nampak."

Rakan-rakan Abu Jahal mula sangsi dengan segala keterangan yang diberikan oleh Abu Jahal. Mereka menyangka Abu Jahal sentiasa mereka-reka cerita yang karut itu, mereka mula hilang kepercayaan terhadapnya. Akhirnya segala kata-kata Abu Jahal mereka tidak berapa endahkan lagi.

KISAH LUQMAN AL-HAKIM DENGAN TELATAH MANUSIA

Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."

Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di passar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."

Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu."

Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."

Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

KISAH PEMUDA YANG BERNAMA 'UZAIR

Pada suatu hari ketika 'Uzair memasuki kebunnya yang menghijau dengan pokok-pokok tamar dan tiba-tiba hatinya telah terpesona serta tertarik untuk memikirkan rahsia keindahan dan keajaiban alam ini. Sesudah memetik buah-buahan dia pulang dengan keldainya sambil menikmati keindahan-keindahan alam sekitarnya sehingga keldai yang ditungganginya tersesat jalan. Setelah sekian lama barulah dia sedar bahwa dia telah berada di suatu daerah yang tidak dikenali oleh beliau serta sudah jauh dari negerinya sendiri.

Sebaik saja dia sampai ke daerah itu dilihatnya kampung itu baru saja diserbu oleh musuh-musuh sehingga menjadi rosak-binasa sama sekali. Di tapak atau bekas runtuhan terdapat mayat-mayat manusia yang bergelimpangan yang sudah busuk serta hancur. Melihatkan pemandangan yang mengerikan itu, dia pun turun dari keldainya dengan membawa dua keranjang buah-buahan. Manakala keldainya itu ditambat di situ, kemudian dia pun duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh bagi melepaskan penatnya. Dalam pada itu, fikirannya mula memikirkan mayat manusia yang sudah busuk itu.

"Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu akan dihidupkan oleh Tuhan kembali di negeri akhirat?" begitulah pertanyaan yang datang bertalu-talu da tidak terjawab olehnya sehingga dia menjadi lemah-longlai dan kemudian terus tertidur. Dalam tidur itu, dia seakan-akan bertemu dengan semua arwah (roh-roh) orang-orang yang sudah meninggal itu. Tidurnya amat luar biasa sekali, bukan hanya sejam atau semalam, tetapi dia telah tidur terus-menerus tanpa bangun-bangun selama seratus tahun lamanya.

Dalam masa dia tertidur itu, keadaan di sekitarnya sudah ramai lapisan baru, rumah serta bangunan-bangunan banyak yang telah didirikan. Dalam masa seratus tahun itu, segala-galanya sudah berubah, manakal 'Uzair tetap terus tidur tersandar di dinding buruk itu menjadi jasad (tubuh) yang tidak bernyawa lagi. Dagingnya sudah hancur dan tulang belulangnya sudah hancur lebur berderai. Kemudian jasad 'Uzair yang telah mati, daging dan tulangnya yang sudah hancur itu disusun kembali oleh Allah pada bahagiannya masing-masing lalu ditiupkan ruhnya. Dan ketika itu juga 'Uzair hidup kembali seperti dahulu. 'Uzair terus berdiri seperti orang yang bangun dari tidur lantas dia mencari keldai dan buah-buahannya di dalam keranjang dahulu.

Tidak berapa lama kemudian, turunlah beberapa malaikat seraya bertanya, "Tahukah engkau ya 'Uzair berapa lama engkau tidur?" Tanpa berfikir panjang 'Uzair menjawab, "Saya tertidur sehari dua ataupun setengah hari." Lalu malaikat pun berkata kepadanya, "Bahwa engkau terdampar di sini genap seratus tahun lamanya. Disinilah engkau berbaring, berhujan dan berpanas matahari, kadang-kadang ditiup badai dan berhawa sejuk dan juga panas terik. Dalam masa yang begitu panjang, makanan engkau tetap baik keadaannya. Tetapi cuba lihat keadaan keldai itu, dia sendiri pun sudah hancur dan dagingnya sudah busuk."

Berkata malaikat lagi, "Lihatlah dan perhatikanlah sungguh-sungguh. Demikianlah kekuasaan Allah. Allah dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan mengembalikan jasad-jasad yang sudah hancur lebur dan dengan semudah itu pulalah Tuhan akan membangkitkan semua manusia yang sudah mati itu nanti di akhirat untuk diperiksa dan diadili segala perbuatannya. Hal ini diperlihatkan oleh Tuhan kepada engkau supaya iman engkau tetap dan engkau sendiri dapat menjadi bukti kepada manusia-manusia lain supaya engkau dan manusia-manusia lain tiada syak dan ragu-ragu lagi tentang apa yang diterangkan Tuhan tentang akhirat itu."

Setelah 'Uzair melihat makanan dan keldainya yang sudah hancur itu, maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahwa Allah itu adalah berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu." Tiba-tiba keldai yang sudah hancur berderai itu dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya. Dan akhirnya menjadi seperti sediakala iaitu hidup kembali bergerak-gerak dan berdiri sebagaimana sebelum mati. Maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahwa Allah berkuasa di atas segala-galanya." Lalu dia pun terus mengambil keldainya dahulu dan terus menunggangnya pulang ke rumahnya dahulu dengan mencari-cari jalan yang sukar untuk dikenali. Dilihatnya segala-gala telah berubah. Dia cuba mengingati apa yang pernah dilihatnya seratus tahun dahulu. Setelah menempuhi berbagai kesukaran, akhirnya dia pun sampai ke rumahnya. Sebaik saja dia sampai di situ, dia mendapati rumahnya sudah pun buruk di mana segala dinding rumahnya telah habis runtuh. Semasa dia memandang keadaan sekeliling rumahnya, dia ternampak seorang perempuan tua, lantas dia pun bertanya, "Inikah rumah tuan 'Uzair?"

"Ya," jawab perempuan itu. "Inilah rumah 'Uzair dahulu, tetapi 'Uzair telah lama pergi dan tiada didengar berita tentangnya lagi sehingga semua orang pun lupa padanya dan saya sendiri tidak pernah menyebut namanya selain kali ini saja." Kata perempuan itu sambil menitiskan airmata.

'Sayalah 'Uzair," jawab 'Uzair dengan pantas. "Saya telah dimatikan oleh Tuhan seratus tahun dahulu dan sekrang saya sudah dihidupkan oleh Allah kembali." Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata, "'Uzair itu adalah seorang yang paling soleh, doanya selalu dimakbulkan oleh Tuhan dan telah banyak jasanya di dalam menyembuhkan orang yang sakit tenat." Sambunya lagi, "Saya ini adalah hambanya sendiri, badan saya telah tua dan lemah, mata saya telah pun buta kerana selalu menangis terkenangkan 'Uzair. Kalaulah tuan ini 'Uzair maka cubalah tuan doakan kepada Tuhan suaya mata saya terang kembali dan dapat melihat tuan."

"Uzair pun mendaha kedua belah tangannya ke langit lalu berdoa ke hadrat Tuhan. Tiba-tiba mata orang rua itupun terbuka dan dapat melihat dengan lebih terang lagi. Tubuhnya yang tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan kembali muda. Setelah merenung wajah 'Uzair dia pun berkata, "Benar, tuanlah 'Uzair. Saya masih ingat." Hambanya itu terus mencium tangan 'Uzair lalu keduanya pergi mendapatkan orang ramai, bangsa Israil. 'Uzair memperkenalkan dirinya bahwa dialah 'Uzair yang pernah hidup di kampung itu lebih seratus tahun yang lalu.

Berita itu bukan saja mengejutkan bangsa Israil, tetapi ada juga meragukan dan ada yang tidak percaya kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu menarik perhatian semua orang yang hidup ketika itu. Kerana itu mereka ingin menguji kebenaran 'Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya sendiri seraya bertanya, "Saya masih ingat bahwa bapa saya mempunyai tanda di punggungnya. Cubalah periksa tanda itu. Kalau ada benarlah dia 'Uzair." Tanda itu memang ada pada 'Uzair, lalu percayalah sebahagian daripada mereka. Akan tetapi sebahagian lagi mahukan bukti yang lebih nyata, maka mereka berkata kepada 'Uzair, "Bahwa sejak penyerbuan Nebukadnezar ke atas bangsa dan negara Israil dan setelah tentera tersebut membakar kitab suci Taurat, maka tiadalah seorang pun bani Israil yang hafal isi Taurat kecuali 'Uzair saja. Kalau benarlah tuan Uzair, cubalah tuan sebutkan isi Taurat yang betul."

'Uzair pun membaca isi Taurat itu satu persatu dengan fasih dan lancar serta tidak salah walaupun sedikit. Mendengarkan itu barulah mereka percaya bahwa sungguh benar itulah 'Uzair. Ketika itu, semua bangsa Israil punpercaya bahwa dialah 'Uzair yang telah mati dan dihidupkan semual oleh Tuhan. Banyak di antara mereka yang bersalam dan mencium tangan 'Uzair serta meminta nasihat dan panduan daripadanya. Tetapi sebahagian daripada kaum Yahudi yang bodoh menganggap 'Uzair sebagai anak Tuhan pula. Maha Suci Allah tidak mempunyai anak samada 'Uzair mahupun Isa kerana semua makhluk adalah kepunyaan-Nya belaka. Janganlah kita was-was tentang kekuasaan Allah, maka hendaklah dia fikir siapakah yang menciptakan dirinya itu. Adalah mustahil sesuatu benda itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Kalau masih ada orang yang ragu-ragu tentang kekuasaan Allah, ubatnya hanya satu saja, hendaklah dia membaca dan memahami al-Qur'an, was-was terhadap kekuasaan Allah itu hanya datangnya dari syaitan.

Allah S.W.T telah meletakkan komputer dalam kepala kita untuk berfikir, oleh itu gunakanlah akal kita untuk berfikir.

HIKMAH MENINGGALKAN CAKAP BOHONG

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, menceritakan pada suatu hari ada seorang telah datang berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kerana hendak memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu lalu berkata :

"Ya Rasulullah. Sebenarnya hamba ini selalu saja berbuat dosa dan payah hendak meninggalkannya."

Maka Rasulullah menjawab : "Mahukah engkau berjanji bahwa engkau sanggup meninggalkan bercakap bohong?"

"Ya, saya berjanji" jawab lelaki itu singkat. Selepas itu, dia pun pulanglah ke rumahnya.
Menurut riwayat, sebelum lelaki itu memeluk agama Islam, dia sangat terkenal sebagai seorang yang jahat. Kegemarannya hanyalah mencuri, berjudi dan meminum minuman keras. Maka setelah dia memeluk agama Islam, dia sedaya upaya untuk meninggalkan segala keburukan itu. Sebab itulah dia meminta nasihat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dalam perjalanan pulang dari menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lelaki itu berkata di dalam hatinya :

"Berat juga aku hendak meninggalkan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah itu."
Maka setiap kali hatinya terdorong untk berbuat jahat, hati kecilnya terus mengejek.

"Berani engkau berbuat jahat. Apakah jawapan kamu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah.

Sanggupkah engkau berbohong kepadanya" bisik hati kecil. Setiap kali dia berniat hendak berbuat jahat, maka dia teringat segala pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan setiap kali pulalah hatinya berkata :

"Kalau aku berbohong kepada Rasulullah bererti aku telah mengkhianati janjiku padanya. Sebaliknya jika aku bercakap benar bererti aku akan menerima hukuman sebagai orang Islam. Oh Tuhan....sesungguhnya di dalam pesanan Rasulullah itu terkandung sebuah hikmah yang sangat berharga."

Setelah dia berjuang dengan hawa nafsunya itu, akhirnya lelaki itu berjaya di dalam perjuangannya menentang kehendak nalurinya. Menurut hadis itu lagi, sejak dari hari itu bermula babak baru dalam hidupnya. Dia telah berhijrah dari kejahatan kepada kemuliaan hidup seperti yang digariskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hingga ke akhirnya dia telah berubah menjadi mukmin yang soleh dan mulia.

Laman

Translate